Hampir tiap pagi saya selalu ke pasar tradisional yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal saya dan hampir tiap pagi pulalah saya menemui satu dua pengemis di sana. Mulai dari anak-anak, pemuda, sampai tua renta. Kebiasan para pengemis yang memelas dibuat-buat tersebut adalah mencolek-colek pundak pengunjung pasar sambil mengiba-iba yang sama sekali tak mengibakan,malah sebaliknya menyebalkan. Dan saya termasuk salah satu orang yang sebal dengan ulah para pengemis tersebut. Satu kali saya sedang berbelanja di kios Bu Haji penjual ayam,seorang laki-laki tua berpeci hitam dan bersarung menadahkan tangan. Saya mengangkat telapak tangan saya sambil berucap maaf karena saya memang sudah tidak mau lagi memberi uang kepada para pengemis gadungan yang notabene hanya manusia-manusia pemalas. Setelah berbelanja ayam, saya berniat ke lapak sayuran. Sebelum sampai di lapak sayuran saya bertemu lagi dengan bapak pengemis tadi dan rupanya ia mengenali saya dan tentu saja masih mengingat bahwa tadi saya menolak untuk memberinya uang .Ia menatap sinis dan mengumpatku dengan melontarkan kata, “setan lo!” saya terbelalak dan hanya terbelalak karena tak mungkin saya membalas mengumpatnya. Tapi saya terus memandanginya hingga ia salah tingkah dan mungkin ketakutan,takut kalau saya memarahinya. Dan ketika masih dalam pandangan saya, ia menadahkan tangannya kepada pedagang sayur dan miris benar nasib pengemis tersebut karena telapak tanganya tetap kosong. Ibu penjual sayurpun mengangkat telapak tangannya pertanda ia tak mau memberinya uang.
Bukan sekali dua kali saya menerima umpatan dari para pengemis,baik tua maupun muda karena saya tak menjatuhkan sekeping recehanpun ke telapak tanganya. Sekarang saya memang memilah-milah pengemis mana yang harus saya beri uang dan yang tidak. Lebih baik saya membayar lebih kepada pedagang-pedagang yang sudah tua yang saya belanjai ataupun membayar lebih kepada tukang sampah daripada memberi ke pengemis gadungan atau kepada orang-orang yang mengaku sebagai petugas pencari dana untuk pembanguan sebuah masjid.
Sesampai di rumah saya memikirkan bagaimana masa muda bapak pengemis gadungan yang sudah tua tadi karena menurut saya masa tua adalah akibat dari masa muda. Bagimana keadaan seseorang di hari tua bisa dilihat ketika ia masih muda. Selanjutnya sambil memasak saya menebak-nebak, pastilah kehidupan masa muda bapak itu suram, hanya bermalas-malasan, tidak mau bekerja keras, dan cenderung pasrah pada nasib karena menurut saya seapes-apesnya seseorang yang masa mudanya dipenuhi dengan semangat bekerja keras ,maka ketika tua ia tak akan menjadi pengemis kecuali memang ada faktor lain yang membuatnya harus mengemis misalnya cacat fisik. Jikalau memang dari muda ia terbiasa bekerja keras rasa-rasanya tak mungkin di masa tua ia rela 'berprofesi' sebagai pengemis meskipun ia tetap miskin. Rasa malu untuk menggadaikan harga diri tentu sudah terpatri kuat di jiwanya sehingga ia tak mau serta merta meminta-minta sesusah apapun kehidupannya sedangkan sebenarnya ia masih mampu untuk bekerja. Jadi kalau si bapak tersebut susah di masa tuanya itu lebih disebabkan oleh dirinya sendiri. Ah, miris.
Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa kelak kita akan diminta pertanggungjawaban mengenai masa muda, untuk apa masa muda digunakan. Hal ini disebabkan karena di masa muda semuanya dalam kondisi terbaik,baik dari segi fisik maupun psikis, jauh beda dengan kondisi masa tua. Kondisi fisik kuat, semangat masih berapi-api, maka langkah baiknya jika hal-hal tersebut digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, tidak sebaliknya untuk berhura-hura dan melakukan hal-hal tak bermanfaat lainnya. Namun kenyataanya sering dijumpai banyak pemuda yang salah kaprah dalam hal melewatkan masa mudanya. Masa muda sering dijadikan legitimasi untuk melakukan hal-hal yang negatif karena masa muda adalah masa untuk bersenang-senang dan masih ada masa tua untuk bertobat. Padahal mereka sama sekali tidak tau akankah ia hidup sampai usia tua. Andaipun dipanjangkan usianya sehingga ia berada di fase usia tua tentu saja kondisi masa tuanya tersebut kebalikkan dari kondisi masa mudanyanya karena di kehidupan ini tidak ada rumus masa muda hura-hura masa tua bahagia dan mati masuk surga. Jadi sebaiknya kita lebih bertanggung jawab lagi dengan usia muda yang dikaruniakan oleh Allah karena masa muda adalah cerminan masa tua kita kelak.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


lalu bagaimana seharusnya kita gunakan masa muda kita? mungkin aku termasuk orang yang tidak memaksimalkan masaku saat ini. aku setuju sekali dengan gagasana saudari hastu...... semuga sukse di segala masamu...
ReplyDelete