Suatu kali saya dan teman yang aktif di sebuah pusat kegiatan belajar masyarakat milik pemerintah mencari-cari beberapa orang terutama yang masih berusia produktif untuk diikutkan kursus lifeskill gratis mulai dari menjahit,membuat tas sampai membuat kue bahkan juga ada kursus komputer. Saya menawari seorang tetangga saya yang seorang ABG putus sekolah. Saya ajak ia untuk belajar menjahit atau keterampilan lainnya. Terserah ia mau milih kursus apa. Tapi ia menolak. Saya merayunya lagi tapi ia tetap menolak. Teman sayapun bernasib sama,sampai lelah ia keliling kelurahan tapi kebanyakkan yang ditawari menolak. Bahkan ia hampir menangis saking lelahnya berkeliling kampung. Lalu beberapa waktu yang lalu seorang pemulung yang masih belia lewat di depan saya. Ia saya panggil karena saya punya beberapa kardus yang akan saya berikan kepadanya dan saya bertanya,”kamu gak sekolah?” ia menggeleng. Lalu saya tawari ia untuk sekolah gratis.Ia menolak. Saya tanya kenapa, ia menggeleng saja sambil pergi.
Sementara di tempat lain ada orang-orang yang rela melakukan apapun demi mengenyam bangku pendidikan. Menjadi kuli, menjadi pedagang asongan, bahkan mengamen. Apapun mereka lakukan demi sekolah bahkan ada seorang ibu yang rela bersusah payah mencari kayu bakar karena uang untuk membeli minyak tanah ia gunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Namun malang,Si Ibu tersebut akhirnya meninggal ketika mencari kayu bakar karena tenggelam. Dan masih banyak lagi orang-orang yang melakukan apapun demi mengenyam pendidikan.
Dari dua contoh di atas dapatlah disimpulkan bahwa kenapa seseorang tidak bersekolah atau tidak mengenyam pendidikan yang layak tidak melulu disebabkan oleh biaya pendidikan yang mahal. Tapi bisa jadi disebabkan oleh tidak adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Ketiadaan kesadaran akan pentingnya pendidikan merupakan salah satu penyakit mental sebagian besar bangsa ini. Jika seseorang sudah mengidap penyakit mental satu ini maka walaupun ada sekolah berkualitas murah atau bahkan gratis sekalipun ia akan punya banyak alasan untuk tidak pergi ke sekolah. Dalam pandangan saya penyakit mental tersebut disebabkan oleh sebuah paradigma lama di mana ada semacam tolok ukur yang berlaku di masyarakat pada umumnya bahwa keberhasilan seseorang yang bersekolah itu jika ia mampu menempati status sosial yang lebih tinggi di masyarakat. Misalnya setelah menyelesaikan sekolah ,bekerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar pula sehingga ia menjadi kaya dan selanjutnya menjadi orang terpandang di masyarakat tersebut. Jadi seandainya seseorang sudah menmpuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya tapi ia tidak kaya atau bahkan menganggur maka dikatakan ia hanya buang-buang duid saja,percuma bersekolah,atau intinya ia tidak berhasil bersekolah.
Pemerintah kita yang notabene sangat bertanggung jawab terhadap pendidikan di negara ini sudah seharusnya berusaha menghapus paradigma lama yang menyesatkan tersebut. Haruslah dibuat sistem pendidikan yang memang tujuannya untuk lebih memanusiakan manusia,menjadikan manusia berpikiran lebih maju, lebih mandiri , jadi tidak sekedar mengembleng manusia agar kelak menjadi buruh pabrik, PNS atau karyawan sebuah perusahaan saja. Dengan begitu ketika seseorang telah menyelesaikan sekolahnya ia tidak menjadi manusia bermental kapitalis yang mempunyai pandangan bahwa keberhasilan dalam bersekolah itu diukur dari dimana ia bekerja dengan gaji berapa dan di status sosial mana ia bercokol tapi lebih pada sudahkah menjadi manusia seutuhnya atau belum. Tapi kenyataanya sampai saat ini dunia pendidikan kita tidak mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya, hanya aspek kognitifnya saja yang menjadi orientasi. Jadi makin parahlah penyakit mental masyarakat kiya yaitu minimnya atau bahkan tidak adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Jika seperti ini adanya maka kemajuan Indonesia akan sangat lambat karena semuanya berawal dari pendidikan.
January 13, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment
Komentar